Ajib, Ilmuwan Berhasil Temukan Semut Mutan Pertama

Ajib, Ilmuwan Berhasil Temukan Semut Mutan Pertama

Blogotech.net - Selama puluhan bahkan ratusan tahun, ahli biologi telah mengubah genetika organisme yang beragam seperti tikus, lalat buah, dan bahkan nasi. Namun, ada satu organisme yang membuat ilmuwan penasaran. Organisme tersebut adalah semut. Siklus hidup semut yang kompleks membuatnya sulit untuk direkayasa secara genetika.

Semut merupakan binatang yang sangat ketat dalam mengelola organisasi. Mereka mengorganisasi dirinya dalam kelompok dengan tugas yang sangat spesifik, seperti mencari makanan, bertahan melawan pemangsa, membangun terowongan, dan sebagainya. Koordinasi dan komunikasi dalam jumlah besar tentu diperlukan untuk mencapai kesuksesan koloninya.

"Semut sangat menakjubkan karena dengan genom yang sama Anda bisa menjadi ratu, atau pekerja, atau pekerja kelas lainnya, atau seorang prajurit," ujar Claude Desplan, seorang ahli biologi Universitas New York.

Diberitakan The Washington Post, para ilmuwan telah berhasil melakukan percobaan genetik pada semut. Desplan yang merupakan salah satu penulis penelitian semut mutan mengatakan bahwa sejauh yang ia tahu, semut ini adalah "mutan pertama pada serangga sosial".

Dua jenis semut yang diteliti

Kelompok riset Desplan memilih mempelajari spesies semut pelompat dari India, Harpegnathos saltator. Sementara kelompok riset Daniel Kronauer, ahli biologi Universitas Rockefeller, mempelajari semut Ooceraea biroi.

Kedua kelompok penelitian merekayasa genetik semut mereka dengan cara yang sama. Dengan menggunakan teknik CRISPR-Cas9, molekul bakteri bertindak sebagai gunting untuk menghilangkan komponen penting dari reseptor semut yang bernama feromon. Feromon merupakan zat penting yang digunakan semut untuk berkomunikasi. Meskipun ada ratusan gen pencium pada semut, menghapus satu gen tertentu secara efektif membuat 90 persen sistem penciuman semut tidak berfungsi.

Hasilnya, perilaku mutan semut berubah drastis. Semut pelompat India menjadi menjauh dari koloninya. Semut Ooceraea biroi yang tidak dapat merasakan feromon juga berperilaku aneh. Biasanya, semut jenis ini membenci bau spidol yang menyengat. Namun, semut mutan ini malah berbaris mengitari spidol. Seperti mutan semut pelompat, mutan Ooceraea biroi juga menjadi antisosial.

Kini para ilmuwan tahu bahwa mereka dapat mengubah perilaku semut melalui rekayasa gen. Ke depannya, Kronauer berencana mempelajari cara koloni membagi tugasnya. Sedangkan Despan tertarik pada cara semut merekayasa umur panjangnya. Umur semut dapat berbeda tergantung kedudukannya dalam koloni. Hal itu seperti manusia kembar yang hidup hingga umur 85 tahun, namun yang lainnya hidup hingga umur 550 tahun.

Penelitian semacam ini membuka pintu bagi organisme model baru. Jika metode biosains tradisional digunakan untuk mengajukan banyak pertanyaan mengenai organisme yang sama (contohnya adalah yang dilakukan pada tikus dan lalat buah), maka teknik rekayasa genetika memungkinkan ahli biologi mengajukan pertanyaan spesifik pada hewan yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

Sumber : pikiran-rakyat

Baca juga:

Fahrinheit
Fahrinheit

"Seorang Mantri Keliling yang bekerja sebagai Blogger Paruh Waktu, Pemimpi Pengangguran Sukses."

Buka Komentar
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar

No comments

Silahkan berkomentar sesuai dengan tema, gunakan kata-kata yang sopan dan bijak (no iklan, no SARA, no spam). Komentar yang menyertakan link aktif, iklan atau titip link akan dimasukkan dalam folder SPAM.