5 Teknologi Gadget yang Mati di 2017

5 Teknologi Gadget yang Mati di 2017

Teknologi Gadget yang Mati - Blogotech, Yang namanya teknologi, tentu selalu berubah. Meski begitu, tak jarang teknologi yang sebenarnya canggih masih saja kurang bisa mendapat angin karena jarang ada pihak yang mau menggunakannya. Masalah standar yang terlalu banyak juga tak turut membantu sebuah fitur atau teknologi menjadi umum. Di gadget, kehadiran Apple yang sering menggunakan standar sendiri juga semakin memperparah keadaan.

Meski saat ini masih akhir Agustus, sudah banyak teknologi maupun fitur di gadget yang tak lagi digunakan. Beberapa sebetulnya sempat popular, namun usianya tergolong singkat. Memasuki kuartal ke-4, inilah daftar teknologi di gadget yang “mati” atau tak lagi digunakan. Apa-apa sajakah teknologi gadget yang mati itu? Yuk simak liputannya dari blogotech sekarang :

Micro USB 3.0

Yang satu ini memang tergolong langka. Maklum, standar smartphone (bahkan beberapa hingga saat ini) masih memilih port micro USB 2.0 ketimbang micro USB 3.0. Pada 2013, seri Samsung Galaxy Note 3 menjadi salah satu yang pertama mengusung konektor ini, diikuti oleh seri Samsung Galaxy S5. Namun penerusnya, yakni Galaxy Note 4 dan Galaxy S6 - port yang digunakan justru kembali ke micro USB 2.0 yang lebih umum.

Sangat disayangkan sebenarnya, karena port micro USB 3.0 memiliki kemampuan transfer data yang lebih cepat serta arus daya yang lebih tinggi sehingga saat dicharge menggunakan port USB 3.0 di laptop, bisa sama cepatnya dengan menggunakan adaptor. Di dunia teknologi, port micro USB 3.0 memang masih digunakan contohnya pada hard disk eksternal. Namun di gadget, teknologi ini praktis sudah mati karena hadirnya USB Type-C.

HotKnot

Fitur andalan dari Mediatek (produsen chipset MTK) yang awalnya ditujukan untuk bersaing dengan NFC. Saat itu, Mediatek mencoba mengambil celah kurangnya popularitas NFC sehingga menciptakan teknologi transfer berupa HotKnot. Mirip dengan NFC, HotKnot bisa mengirimkan data berukuran kecil dengan cepat, cukup dengan mendekatkan dua buah smartphone. Bedanya, jika pada NFC bagian yang didekatkan adalah bagian belakang, HotKnot justru ada di bawah layar. Di 2017 ini, smartphone yang mengusung MTK.

Kelemahan HotKnot dibanding NFC adalah perlunya kehadiran layar kapasitif sehingga tidak bisa diimplementasikan pada perangkat lain yang tidak memiliki layar. Apalagi dengan semakin ditinggalkannya prosesor MTK pada smartphone entry-level maupun mid-level membuat teknologi HotKnot bisa dibilang sudah tidak diteruskan lagi.

DLNA (Digital Living Network Alliance)

Jangan heran kalau kamu belum pernah mendengar istilah ini. Di masanya, sekitar awal 2010, DLNA memang diharap menjadi solusi akses file multimedia antar-perangkat. Namun, di perkembangannya, DLNA hanya tersedia pada gadget atau smartphone papan atas yang harganya mahal. Belum lagi Apple, dengan seri iPhone dan iPad, malah memilih menggunakan standar AirPort meski Samsung, LG dan Sony berusaha keras mengenalkan standar ini.

Pada akhirnya, dengan kehadiran Miracast, fitur DLNA praktis ditinggalkan. Sebagai informasi, DLNA dibuat oleh Sony, namun pada seri PlayStation 4 terbaru, fitur ini bahkan tidak lagi tersedia. Hal ini praktis membuktikan bahwa nasib DLNA memang sudah selesai.

Xenon Flash

Yang satu ini merupakan contoh bagaimana sebuah teknologi yang lebih baik belum tentu selalu menjadi pilihan utama. Pada gadget seperti smartphone yang memiliki kamera, kehadiran Xenon Flash ketimbang LED Flash biasanya menentukan kelas dari smartphone itu sendiri. Belakangan ini, kehadiran Xenon Flash di smartphone tergolong langka meski tetap hadir dalam bentuk aksesoris seperti pada MotoMod. Salah satu penyebanya adalah penggunaan Xenon Flash sangat boros baterai sehingga cenderung dihindari oleh pihak vendor.

Sebagai ilustrasi, smartphone terakhir yang mengusung Xenon Flash langsung adalah Lumia 1020 dan itupun hadir empat tahun lalu. Setelahnya, praktis penggunaan Xenon Flash ditinggalkan dan digantikan dengan Dual-LED Flash yang lebih efisien dan hemat dari segi harga.

3G Video Call

Untuk yang terakhir ini, memang sudah saatnya ditinggalkan. Maklum, teknologi 3G sudah menjadi barang usang dengan hadirnya 4G dan persiapan menuju 5G. Apalagi saat ini, fungsi Video Call bisa lebih mudah diakses dengan aplikasi seperti Whatsapp, LINE ataupun Skype. Padahal di masa silam, ponsel fitur seperti SonyEricsson K800 bisa melakukan video call cukup dengan memanfaatkan jaringan 3G.

Saat ini, hilangnya fitur 3G Video Call bisa dibilang lantaran OS seperti Android dan iOS yang memang tidak mendukung. Bahkan di era 2012, hanya beberapa seri smartphone keluaran Samsung saja yang masih mendukung fasilitas tersebut. Meski layanan tersebut masih tersedia dari operator seperti Telkomsel, untuk bisa memanfaatkannya praktis memerlukan ponsel fitur atau seri lama yang memang masih memiliki fitur Video Call.

Dari 5 teknologi yang disebutkan di atas, beberapa memang memiliki kemungkinan untuk melakukan ‘comeback’ saat teknologi pendukungnya lebih murah. Sebagai contoh, teknologi Infra Red (IrDA) yang dulu sempat popular di ponsel seri Symbian, kemudian hilang ketika beralih ke era smartphone, kini mulai popular lagi pada smartphone merk Xiaomi dan sejenisnya yang digunakan untuk perangkat remote dan lainnya. Menurutmu teknologi manakah yang mungkin akan kembali? Tulis di kolom komentar yaa.

Sumber : togardergrosse @UCNews

Baca juga:

Fahrinheit
Fahrinheit

"Seorang Mantri Keliling yang bekerja sebagai Blogger Paruh Waktu, Pemimpi Pengangguran Sukses."

Buka Komentar
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar

No comments

Silahkan berkomentar sesuai dengan tema, gunakan kata-kata yang sopan dan bijak (no iklan, no SARA, no spam). Komentar yang menyertakan link aktif, iklan atau titip link akan dimasukkan dalam folder SPAM.