Teknik Menggunakan Lampu Sein yang Tepat

Teknik Menggunakan Lampu Sein yang Tepat

Blogotech - Adanya piranti keselamatan di mobil menjadi satu keharusan. Lampu sein salah satu di antaranya. Lampu yang didesain berkedip-kedip berwarna kuning tersebut diciptakan untuk mencegah kecelakaan ketika mobil hendak berbelok atau pindah jalur.

Kegunaan lampu sein tidak hanya tanda untuk belok atau pindah jalur. Lampu sein juga dapat digunakan untuk memberitahukan kepada pengendara lain kalau Anda ingin tetap berada di jalur tersebut, atau bisa juga menandakan kalau di depan ada kendaraan berlawanan ketika Anda ingin menyalipnya.

Untuk mengoperasikan piranti keselamatan tersebut pengemudi punya peran utama dan penting. Sayangnya masih banyak yang belum tahu dan paham tentang teknik yang tepat ketika menyalakan lampu sein.


"Ada teknik yang tepat ketika menyalakan lampu sein. Sebaiknya menyalakan lampu sein 5-6 detik atau 30 meter sebelum mobil berbelok, berhenti atau menyalip. Ini dimaksudkan agar pengendara lain bisa mengatur kecepatan dan bisa memberikan kesempatan," jelas Instruktur Safety Institute Indonesia, Dhany Ekasaputra.

Penggunaan lampu sein juga telah diatur dalam UU no 22/2009 Pasal 112 yang berbunyi, "Pengemudi kendaraan yang akan berbelok atau berbalik arah wajib mengamati situasi lalu lintas di depan, di samping, dan di belakang kendaraan. Selain itu, pengemudi memberikan isyarat dengan lampu penunjuk arah atau isyarat tangan."

"Lampu sein tidak boleh mati. Jika hal itu sampai terjadi, mobil yang ada di depan maupun belakang tidak tahu mobil Anda akan berbelok atau menyalip," tutup Dhany.

Selain itu menyalakan flash hazard mobil adalah cara unik baru untuk menyatakan terima kasih. Bisa jadi karena Anda telah memberikan kesempatan bagi mereka untuk lebih dulu menggunakan jalan di persimpangan dan lain sebagainya.

Namun patut diketahui, bahwa kedipan lampu hazard yang diberikan hanya dua kali, yang berarti terima kasih atau dalam bahasa Inggris thank you. Bukan lebih dari itu atau untuk terus-terusan. Apakah ini bisa diterapkan di Indonesia dan menjadi bahasa baku bagi kalangan pengendara? sepertinya menarik.

Sumber : kompasiana

Baca juga:

Fahrinheit
Fahrinheit

"Seorang Mantri Keliling yang bekerja sebagai Blogger Paruh Waktu, Pemimpi Pengangguran Sukses."

Buka Komentar
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar

No comments

Silahkan berkomentar sesuai dengan tema, gunakan kata-kata yang sopan dan bijak (no iklan, no SARA, no spam). Komentar yang menyertakan link aktif, iklan atau titip link akan dimasukkan dalam folder SPAM.